Oleh:
Ali Wardhana
Amerika sedang dilanda krisis ekonomi. Mata dunia untuk beberapa minggu ini tersita pada berita yang bagi sebagian orang masih sulit dipercaya. Bagaimana mungkin negeri super power yang menjadi tulang punggung sistem kapitalis dunia mengalami nasib seperti Indonesia. Dan bagaimana mungkin negara yang mata uang dolar-nya menjadi prestise kekayaan negara-negara lain kini menghadapi ancaman stagflasi yang mengerikan.
Beribu pertanyaan mungkin terlontar dibenak kita. Tapi yang jelas. Presiden AS George W. Bush dalam pidatonyaa mengakui negaranya dalam keadaan bahaya dan dengan susah payah akhirnya berhasil merayu kongres untuk menyetujui dana talangan sebesar US$ 700 Miliar untuk membantu industri keuangan yang kian sekarat.
Sebenarnya sejak tahun 2002 sudah lebih 45 buah bank di Amerika yang mengalami kebangkrutan. Puncaknya lembaga keuangan terbesar keempat di Amerika, Lehman Brothers, yang menghadapi kesulitan likuiditas, yang akhirnya bangkrut, dan ditutup.
Bila ditelisik lebih jauh semuanya berawal dari naluri eksvansif pihak bank atau investment banking dalam penyaluran kredit properti (mortgage). Saking semangatnya dalam meningkatkan laba perusahaan pihak investment banking menurunkan standar kelayakan si penerima kredit properti dari prime mortgage ke subprime mortgage.
Sekedar diketahui prime mortgage biasanya diberikan kepada peminjam yang memiliki sejarah kredit yang bagus, tidak terlambat membayar dan dapat menunjukan kapasitas untuk membayar kembali hutangnya, sedangkan subprime mortgage diberikan kepada peminjam yang tidak memenuhi ketiga persyaratan tersebut. Pada tahun 2004, 2005, dan 2006, persentase subprime mortgage adalah 23.8%, 25.5%, dan 22.8% dari total pemberian pinjaman mortgage pertahunnya (www..Jurnal Ekonomi Ideologis)
Dari tahun 2001 sampai akhir 2005, proporsi aset mortgage dari aset bank komersial terus meningkat. Tak heran jika pada periode tersebut tingkat pembangunan rumah di Amerika Serikat juga meningkat pesat: housing boom. Dalam kondisi suku bunga yang rendah dan harga rumah yang terus naik, pemberi mortgage seolah melupakan resiko gagal bayar peminjam subprime mortgage.
Balon kredit properti itu akhirnya meletus. Kegagalan bayar mortgage menghiasi diary bisnis ekonomi Amerika. Nilai rumah yang gagal bayar kira-kira mencapai 5 triliun dolar. Jadi, kalau Presiden Bush menyuntik dana sebesar USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan efektivitasnya dalam menyelesaikan masalah.
Menurut Dahlan Iskan, bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang berikutnya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain. Roboh semua.
Efek domino krisis Amerika telah menyebar ke Eropa hingga ke Asia. Merontokkan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada bursa-bursa saham di selururh dunia. Dan melemahkan (depresiasi) mata uang- mata uang soft currency yang dimiliki negara-negara sedang berkembang.
Fakta bailout hanya salah satu dari sekian banyak masalah yang dihadapi Amerika sebagai punggawa kapitalisme. Mulai dari defisit neraca pembayaran hingga hutang yang bejibun. April 2007 USA terjerat hutang US$ 8,9 trilyun dengan beban bunga yang harus dibayar tiap tahun sebesar US$ 300 milyar, Dari hutang sebesar itu sekitar 23% diantaranya merupakan hutang kepada investor asing melalui penjualan obligasi.
Bila akhirnya para investor tidak percaya lagi dengan obligasi yang diterbitkan Departemen Keuangan Amerika dan lebih khusus tidak mau lagi memegang dollar maka saat itulah kita akan melihat keruntuhan negeri super power tersebut
Ayat-Ayat Cinta
Berkaca pada krisis di Amerika seharusnya membuat kita sadar bahwa sistem ekonomi liberal yang sering didiktekan Amerika sebagai suatu sistem ideal patut dipertanyakan. Terbukti mereka yang konsisten dengan kapitalisme selama berabad-abad akhirnya ambruk juga. Hal ini selaras dengan pendapat pakar ekonomi Kalsel, Syahrituah Siregar, bahwa resiko krisis justru dipercaya melekat pada kelemahan sistem keuangan itu sendiri (the risk is always there).
Pertumbuhan keuangan versi kapitalisme yang bertumpu pada transaksi spekulatif di sektor non riil memang dapat meningkatkan pertumbuhan sektor non riil, akan tetapi ia akan menghadapi bahaya gelembung ekonomi (bubble economy) karena pertumbuhan itu tidak dibarengi oleh kemajuan kinerja sektor riil. Pada suatu saat penggelembungan ekonomi akan mencapai titik jenuh. Ibarat balon yang terus ditiup sampai besar pada akhirnya akan meletus.
Kurang lebih 14 abad yang lalu Allah yang Maha Rahman telah memperingatkan pada hambanya agar menjauhi ekonomi yang berbasis riba
”Orang-orang yang makan (mengambil riba) tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS. Al-Baqarah : 275).
Ayat peringatan tersebut sebenarnya wujud kecintaan Allah SWT pada hambanya. Allah yang mencipkan manusia, jadi Dia yang paling tahu sistem ekonomi apa yang terbaik bagi hambanya. Menjadi masalah karena pengusung sistem kapitalis tak menghiraukan ayat-ayat cinta yang dipesankan Allah melalui Nabinya yang mulia.
Dari banyak pengalaman negara penganut kapitalis sangat rentan krisis. Negara pengusung kapitalisme seperti QS Al Baqarah:275, tak mampu berdiri kokoh, selalu goyah. Dan mereka tak akan mencapai kemakmuran yang hakiki.
Sepertinya sudah saatnnya ummat manusia meninggalkan sistem kapitalis dan kembali pada sistem ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai Ilahiyah. ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah : 278).