Pelajaran dari Penaikan Harga Susu

Oleh: Ali Wardhana

Kenaikan harga bahan pokok sekarang seperti menjadi ritual arisan. Diawali BBM, listrik, minyak goreng dan kini susu. Walaupun penaikan harga susu formula hanya berkisar 5-10 persen, tetapi cukup memusingkan masyarakat karena terakumulasi dengan kenaikan harga sebelumnya. Sementara daya beli yang dimiliki masyarakat seakan sulit beringsut ke arah yang lebih baik

Peningkatan harga susu perlu serius dicermati, karena produk ini memiliki sensitivitas tinggi pada tingkat kesehatan. Khusus bagi bayi, susu formula menjadi menu tambahan selain ASI pascausia enam bulan dan minuman wajib setelah dua tahun proses peng-ASI-an selesai. Bagi balita yang sulit makan, biasanya susu formula menjadi andalan ibu untuk menjadi asupan utama guna menjaga berat badan bayinya agar tak melorot.

Selain untuk balita, susu formula esensial bagi asupan kesehatan remaja dan orang tua. Kecilnya tubuh orang Indonesia dibandingkan bangsa lain selain faktor genetik, disinyalir karena kurangnya asupan gizi (termasuk susu) yang diterima anak Indonesia.

Fakta empiris 2006 menunjukkan, rata-rata orang Indonesia hanya minum susu sebanyak 7,7 liter per kapita per tahun. Ini jauh di bawah India yang 44,9 liter per kapita per tahun dan Malaysia yang 25 liter per kapita per tahun. Bahkan dengan Vietnam yang baru membangun ekonominya kita juga kalah, karena penduduknya mengonsumsi 8,5 liter susu per kapita per tahun.

Maka, penaikan harga susu tentu akan semakin mengurangi rata-rata konsumsi susu secara nasional. Di beberapa daerah sudah banyak ibu dari rumah tangga miskin yang menggantikan susu formula dengan air tajin atau air gula untuk mensubstitusi susu yang tak terbeli. Jika proses subtitusi itu betul-betul merata dilakukan RT miskin, maka gizi buruk bukan lagi kasus tapi sebuah keniscayaan.

Sepertinya lagu Galang Rambu Anarki-nya Iwan Fals sangat cocok untuk menggambarkan keadaan kita sekarang, dengan sedikit perubahan bait syairnya menjadi minyak goreng naik tinggi, susu tak terbeli, pemerintah ogah kasih subsidi, anak kami kurang gizi.

Langkah Instropeksi

Penaikan harga susu disebabkan oleh variabel eksternal yang tak bisa dikontrol pemerintah, yaitu kekeringan yang melanda Australia sehingga peternak di sana kesulitan mencari pakan dan air. Apa hubungannya kekeringan di Australia menjadi penyebab naiknnya harga susu di Indonesia. Ternyata sekitar 70 persen bahan baku industri pengolahan susu nasional berasal dari Australia dan Selandia Baru. Hanya 30 persen dipasok dari dalam negeri.Sudah saatnya sektor peternakan mendapatkan perhatian serius. Perlu grand design bagi sektor peternakan khususnya peternak sapi perah, agar dapat memenuhi bahan baku industri pengolahan susu nasional dan mengurangi ketergantungan dari luar.Rendahnya volume produksi, plus minimnya kualitas susu hasil peternak lokal adalah permasalahan yang perlu segera dibenahi. Perlu disadari, usaha peternakan sapi perah memerlukan modal yang tak sedikit. Dari penyediaan bibit unggul sapi, pakan dan kandang sampai obat-obatan. Tingginya harga faktor produksi tersebut, perlu dicarikan solusi stategis baik melalui mekanisme subsidi harga faktor atau memberikan kredit murah kepadap peternak. Tentu saja akan lebih sempurna, kalau penyuluhan yang kontinyu terus diberikan.Kemauan saja tanpa tindakan nyata tentu bukan hal yang bijaksana. Tak perlu sampai menunggu cermin pecah untuk melihat buramnya potret ketergantungan dalam tataniaga susu tersebut. Langkah konkret untuk memutus rantai ketergantungan diharapkan cepat dilakukan. Jika peternak sapi perah betul-betul diberdayakan, ke depannya tak ada lagi cerita naiknya harga susu karena kekeringan di negeri orang. Semoga.

 

Diterbitkan di: on 24 September 2007 at 6:38 am Komentar (1)

URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://alifeunlam.wordpress.com/2007/09/24/menanti-konsistensi-dukungan-terhadap-perbankan-syariah/trackback/

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

Satu komentar Leave a comment.

  1. Mas Ali, syariahin dulu kampus unlam ya….


Leave a Comment