Oleh: Ali Wardhana
Jika Anda tertawa atau mengernyitkan dahi saat menbaca judul di atas, saya pasti memakluminya. Karena begitu jauhnya kasta antara banua tercinta ini dengan Negeri Ginseng tersebut. Apalagi yang mau dijadikan setara dengan Korsel adalah provinsi yang di Indonesia saja hanya menduduki peringkat 14 dalam daya saing daerah. Korsel merupakan negara yang telah mengalami proses kematangan (maturity). Pertanyaan kapan kalsel setara Korsel, bak pepatah mencari jarum di tumpukan jerami.
Tapi sejarah juga membuktikan, di dunia ini banyak hal yang tak mungkin menjadi sesuatu yang mungkin terjadi. Contoh, mungkin orang dulu tak menyangka Jepang yang dua kotanya hancur lebur dibom Amerika, sekarang menjadi raksasa perekonomian dunia.
Seperti papadah urang bahari, tak ada salahnya mengikuti jalan kesuksesan yang ditempuh Korsel. Tak ada salah kalau banua ini bervisi misi menjadikan pembangunannya sepesat Korsel, mengingat keadaan masa lalu Korsel sendiri sebelum 1970 sangat miskin dan tidak lebih dari suatu bangsa yang hanya ingin berlepas dari kelaparan. Bahkan, nama Korsel sama sekali tidak disebut dalam buku Stages of Economic Growth-nya Rostow. Pada 1960 saat buku itu diterbitkan, kondisi Korsel sama sekali tidak memenuhi syarat untuk disebut siap tinggal landas.
Namun sekarang merambah tahapan akhir dari teori tahapan pertumbuhan ekonomi Rostow. Korsel menjadi negara dagang terbesar ke-10 di dunia. Bahkan organisasi negara maju yakni OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) telah memberikan pengakuan resmi terhadap status Korsel sebagai sebuah negara industri penuh.
Korsel tidak dikaruniai sumber daya alam (SDA) yang melimpah, tetapi mereka beruntung karena dikaruniai penduduk yang tekun dan semuanya hampir melek huruf serta selalu giat menekuni bidang industri.
Sumberdaya mineral yang dimiliki Korsel hanya tungsten, batu bara, antrasit, bijih besi, batu kapur, kaolinite (tanah liat bahan pembuat keramik) dan grafit. Negara ini sama sekali tidak memiliki sumberdaya minyak, tetapi dengan kemajuan ilmu dan teknologi mereka mampu mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir.
Potensi Banua
Kalsel sebenarnya memiliki banyak persamaan dengan Korsel, jika kita lihat dari pengalaman sejarah dan potensi SDA yang dimiliki. Korsel mengandung batu bara, bijih besi dan hutan. Kalsel juga memiliki kekayaan alam serupa, bahkan jika dihitung depositnya jauh melebihi korsel. Menjadi pertanyaan, mampukah dengan kekayaan SDA tersebut menjadi suatu akumulasi modal untuk pembangunan sumberdaya manusianya?
Mampukah kita mengelola keuntungan dari SDA itu untuk meningkatkan taraf pendidikan masyarakat sehingga tenaga kerja yang dihasilkan terampil, andal, menguasai iptek dan yang terpenting memiliki jiwa entrepreneur. Kebijakan pendidikan Korsel berhasil menyediakan tenaga berkeahlian dan bermental entrepreneur yang siap mendukung pembangunan teknologi industri. Ini adalah starting point yang harus diperhatikan oleh pengambil kebijakan baik di pemerintahan pusat maupun daerah.
Apalagi kita ketahui bersama, pengeksploitasian tambang dan hutan menghasilkan risiko yang tidak sedikit. Bahkan, kita mulai menerima getah dari pengelolaan SDA yang tidak termenej dengan baik, yaitu bencana banjir. Harga mahal dari eksploitasi SDA yang penuh risiko itu, paling tidak ditebus dengan peningkatan mutu pendidikan anak banua. Dengan demikian, apabila tambang yang sifatnya unrenewable itu habis, anak cucu kita sudah cukup pintar dan cerdas untuk berkreasi dan menjual kemampuan di bidang ilmu, teknologi dan jasa. Kelihatannya idealis, tapi itulah kenyataannya. Kalau tidak dirumuskan dari sekarang, mungkin masa depan banua ini akan lebih muram dari keadaan sekarang.
Langkah Awal
Sehubungan upaya peningkatan pendidikan yang menghasilkan tenaga berkeahlian, ada dua fenomena yang terjadi baru-baru ini di dua perguruan tinggi negeri di Banjarmasin yaitu Unlam dan Politeknik yang semoga menjadi langkah awal untuk pengembangan iptek.
Pertama, warga banua mungkin masih ingat pada berita tentang kerjasama antara Universitas Utara Malaysia (UUM) dan Unlam beberapa waktu lalu. Saat kunjungan delegasi UUM ke Banjarmasin yang juga dihadari unsur pemerintahan daerah, dibicarakan berbagai macam kerjasama mulai dari pertukaran mahasiswa, beasiswa pendidikan ke Malaysia dan paling menarik tawaran mendirikan pabrik komputer/laptop berharga murah. UUM di negerinya berhasil menjalankan sayap bisnis di teknologi komputer tersebut. Kita tentu berharap, pemda pro aktif menindaklanjuti tawaran itu. Sebab, kalau kita hanya menunggu bola maka peluang untuk peningkatan daya saing daerah ini akan hilang begitu saja.
Upaya pembangunan yang berbasis manufacture, mau tidak mau membutuhkan banyak investor untuk menanamkan modalnya di daerah ini. Ini perlu langkah promosi yang jitu dan dengan pembukaan jaringan kerjasama pada investor dalam maupun luar negeri.
Kedua, kesuksesan tim robot Al Fauzah menjadi juara III Kontes Robot Nasional. Ini menjadi modal dasar, anak banua ini mampu bersaing dalam pengembangan ilmu dan teknologi. Kita berharap, di masa akan datang di banua ini muncul Al Fauzah yang lain sehingga kesadaran pentingnya teknologi dan industri yang begitu tinggi di kalangan perguruan tinggi akan bersemi ke seluruh masyarakat di banua ini.
Jadi, kapan Kalsel akan setara dengan Korsel? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing, sejauhmana seluruh lapisan masyarakat banua ini mau bertekad untuk maju dan meninggalkan keterbelakangan. Seperti sebuah kata bijak dari Korsel: “Surga akan menolong orang yang mau menolong dirinya.”
ass. nang sama antara kuria wan kita tu adalah only gingsing vs tangkur buaya haja bapa….