BAILOUT DAN AYAT-AYAT CINTA

Oleh:

Ali Wardhana

 

            Amerika sedang dilanda krisis ekonomi. Mata dunia untuk beberapa minggu ini tersita pada berita yang bagi sebagian orang masih sulit dipercaya. Bagaimana mungkin negeri super power yang menjadi tulang punggung sistem kapitalis dunia mengalami nasib seperti Indonesia. Dan bagaimana mungkin negara yang mata uang dolar-nya menjadi prestise kekayaan negara-negara lain kini  menghadapi ancaman stagflasi yang mengerikan. (lagi…)

Diterbitkan di: on 14 Oktober 2008 at 7:05 am Tinggalkan sebuah Komentar

100 TAHUN HARKITNAS DAN MOMENTUM KEBANGKITAN EKONOMI

Oleh:

Ali Wardhana, M.Si

Dosen IESP FE Unlam

            Tak terasa sudah satu abad bangsa ini memperingati hari Kebangkitan nasional. Tanggapan elemen masyarakat terhadap peristiwa tersebut bermacam-macam. Tapi kalau mau jujur mungkin sebagian besar respon kita hanya menganggap peristiwa itu sebatas seremonial belaka.

Kalau direnungi secara mendalam   permasalahan yang dihadapi bangsa ini tak berubah dengan yang dihadapi di era penjajahan Belanda dulu. Jika dulu  kebodohan, kemelaratan dan keterberdayaan dialami rakyat karena penjajahan fisik  oleh Belanda. Kini di alam kemerdekaan itu ternyata penjajahan itu masih ada tapi dalam bentuk bentuk yang lebih halus yaitu  penjajahan ekonomi. (lagi…)

Diterbitkan di: on 19 Juni 2008 at 6:31 am Komentar (1)

Menahan Bandul Krisis dengan Ekonomi Syariah

Ali Wardhana

 

 

Satu dekade pascakrisis krisis moneter tahun 1997 kita kembali dikejutkan akan warning dari pejabat lembaga asing dalam pertemuan para menteri ekonomi di Kyoto pada Mei 2007 tentang potensi krisis pada perekonomian Indonesia. Sinyalemen tersebut jelas bukan good news bagi masyarakat ataupun pelaku bisnis yang masih merasakan pahitnya hidup di bawah tekanan krisis.

Sekarang ini saja secara makro perekonomian nasional belum pulih betul. Ini dapat dilihat dari tingginya angka pengangguran dan kemiskinan,  angka pertumbuhan ekonomi masih lebih rendah dari level sebelum krisis, rendahnya investasi langsung (direct investment) hingga sulitnya menggerakkan sektor riil. (lagi…)

Diterbitkan di: on at 5:49 am Tinggalkan sebuah Komentar
Tags:

Menanti Konsistensi Dukungan terhadap Perbankan Syariah

Oleh: Ali Wardhana

Pada 28 April lalu, Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FE Unlam menyelenggarakan seminar yang membahas peran, prospek dan tantangan perbankan syariah di Kalsel. Dengan pembicara dari Bank Indonesia, BPD Syariah dan BMT.

Memang sudah banyak seminar, lokakarya dan diskusi yang membahas masalah perbankan syariah. Tetapi tema tersebut masih sangat menarik untuk dibahas, karena ekonomi syariah merupakan solusi alternatif dan unik di tengah gemerlap sistem kapitalisme global. (lagi…)

Diterbitkan di: on 25 September 2007 at 6:22 am Komentar (2)

Merindukan KPR Syariah Di Kalsel

Oleh: Ali Wardhana 

Kelahiran bank syariah di Indonesia didorong oleh keinginan masyarakat Indonesia yang berpandangan, bunga (interest) merupakan hal yang dilarang dalam agama. Bukan saja agama Islam, tetapi juga oleh agama samawi lainnya. Di samping adanya alasan lain dari aspek ekonomis, penyerahan risiko usaha terhadap salah satu pihak dinilai melanggar norma keadilan.Dilihat dari aspek hukum, yang mendasari perkembangan bank syariah di Indonesia adalah UU No 7 Tahun 1992. Dalam UU ini, prinsip syariah masih samar, yang dinyatakan sebagai prinsip bagi hasil. Prinsip perbankan syariah secara tegas dinyatakan dalam UU No 10 Tahun 1998 kemudian diperkuat dengan UU No 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia dan UU No 3 Tahun 2004. Perkembangan lembaga keuangan syariah dimulai pada 1992 yang diawali dengan berdirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI), sebagai bank yang menggunakan prinsip syariah pertama di Indonesia. (lagi…)

Diterbitkan di: on at 6:12 am Komentar (3)

Pelajaran dari Penaikan Harga Susu

Oleh: Ali Wardhana

Kenaikan harga bahan pokok sekarang seperti menjadi ritual arisan. Diawali BBM, listrik, minyak goreng dan kini susu. Walaupun penaikan harga susu formula hanya berkisar 5-10 persen, tetapi cukup memusingkan masyarakat karena terakumulasi dengan kenaikan harga sebelumnya. Sementara daya beli yang dimiliki masyarakat seakan sulit beringsut ke arah yang lebih baik (lagi…)

Diterbitkan di: on 24 September 2007 at 6:38 am Komentar (1)

Mengukur Ketidakarifan Impor Beras

Oleh: Ali Wardhana

Harga panen yang baik, membuat petani mampu bertahan dari tingginya biaya hidup akhir-akhir ini, di tengah kelangkaan pupuk dan sulitnya akses kredit usaha tani serta minimnya perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian.

Bertopi caping rotan khas Dayak, terlihat ekspresi Presiden Yudhoyono sangat gembira saat mengangkat serumpun padi yang menguning. Di sampingnya Menteri Pertanian Anton Apriantono juga tersenyum sumringah memegang bulir padi yang telah dipotong. Kehadiran dua orang penting ini dalam rangka pencanangan program rehabilitasi dan revitalisasi kawasan eks Pengembangan Lahan Gambut (PLG) di UPT Dadahup, Kapuas. Masyarakat Kalteng khususnya dan Kalimantan umumnya, patut bangga atas kehadiran Presiden di areal yang sempat sebelumnya dianggap gagal. (lagi…)

Diterbitkan di: on at 6:17 am Tinggalkan sebuah Komentar

Kapan Kalsel Setara Dengan Korsel

Oleh: Ali Wardhana

Jika Anda tertawa atau mengernyitkan dahi saat menbaca judul di atas, saya pasti memakluminya. Karena begitu jauhnya kasta antara banua tercinta ini dengan Negeri Ginseng tersebut. Apalagi yang mau dijadikan setara dengan Korsel adalah provinsi yang di Indonesia saja hanya menduduki peringkat 14 dalam daya saing daerah. Korsel merupakan negara yang telah mengalami proses kematangan (maturity). Pertanyaan kapan kalsel setara Korsel, bak pepatah mencari jarum di tumpukan jerami. (lagi…)

Diterbitkan di: on at 6:03 am Komentar (1)

Banjir Bandang Korupsi

Oleh: Ali Wardhana Hamidhan

Selama Mei lalu, kita disuguhkan banyak berita tentang pengungkapan kasus korupsi. Empat lembaga penegakan hukum dan pemberantasan korupsi yakni KPK, Tim Task Tipikor, kejaksaan dan kepolisisan seakan berlomba menangkap koruptor yang kita ketahui bersama sudah sangat menggurita di negeri tercinta ini.Satu per satu petinggi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masuk gedung bundar Kejagung. Menurut Metro TV, Kejagung sudah mengantongi 21 BUMN bermasalah yang diindikasikan membuat banyak kerugian negara. Sebagai contoh adalah kasus penyalahgunaan keuangan negara dalam pembagian bonus (tantiem) tahun buku 2003 senilai Rp4,3 miliar kepada jajaran direktur, serta komisaris PT PLN di saat kondisi perusahaan mengalami kerugian. Kasus lain adalah skandal kredit macet Rp1,4 triliun di Bank Mandiri, menguapnya Rp103 miliar uang pekerja yang diinvestasikan PT Jamsostek, bersamaan dengan bangkrutnya Bank Global dan dugaan korupsi dana haji di Depag. (lagi…)

Diterbitkan di: on 15 Februari 2007 at 6:07 am Komentar (4)